IMG_9450
Kepala Desa Sambirejo saat memberikan sambutan

Implementasi Konsep Desa MANTAP merupakan sebuah strategi yang ditempuh Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) dalam meningkatkan kualitas pendampingan dan pemberdayaan di desa. Selama ini, YSKK dalam melakukan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat desa masih disesuaikan dengan kebutuhan mendesak di masyarakat, YSKK hadir ke masyarakat saat hanya dibutuhkan saja. terutama dalam pendampingan terhadap kelompok-kelompok ekonomi perempuan seperti koperasi, kelompok olahan makanan, dan lain-lain. Melalui konsep Desa MANTAP ini, YSKK bersama dengan Pemerintah Desa akan melakukan pendapingan dan pemberdayaan secara sistematis dan sudah terencana dengan baik.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Divisi Pemberdayaan Perempuan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) Lusiningtyas saat memberikan pengantar penyelenggaraan focus group discussion (FGD) Implementasi Desa MANTAP bersama Desa Sambirejo Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul pada Jumat (4/5) kemaren.

Tidak hanya di Sambirejo, hal serupa juga disampaikan Lusi di Desa Semin Kecamatan Semin Gunungkidul pada acara yang serupa di hari yang sama, hanya saja waktunya yang berbeda. Penyelenggaraan FGD di Sambirejo dimulai jam 10:00 hingga jam 11:45 WIB. sementara di Desa Semin dimulai dari jam 13:30 sampai jam 15:30 WIB.

Tujuan diselenggarakannya acara tersebut ialah untuk membangun kesepakatan-kesepakatan yang akan digarap di desa serta pembagian peran yang jelas antara Desa dan YSKK dalam setiap proses implementasi Desa MANTAP satu tahun ke depan. “Harapannya, ketika desa Mantap ini terinisiasi dengan baik, ada sebuah produk yang bisa menjadi ikonnya desa” ujar Lusi.

3 Kesepakatan bersama Desa Sambirejo

Penyelenggaraan FGD di Sambirejo berlangsung dengan lancar. Antusias Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan perwakilan kelompok-kelompok ekonomi desa yang hadir sebagai peserta sangatlah tinggi. semua peserta tampak terbuka saat mengutarakan segala pendapat dan usulan-usulannya.

IMG_9467
Peserta FGD di Desa Sambirejo

Saat ditanya produk apa yang akan dikembangkan untuk dijadikan produk unggulan Desa Sambirejo, peserta tampak kebingungan dalam memilih jenis produknya. hal ini disebabkan karena di Desa Sambirejo hampir 75% warga masyarakatnya adalah pelaku di bidang produksi. ada yang produksi olahan makanan lokal, produksi bahan bangunan, produksi aksesoris, anyaman bambu, dan jenis usaha produksi lainnya. “Ada lagi yang produksi anyaman palstik. hampir dari setiap pedukuhan ada yang memproduksi itu. kemudian ada lurik yang masih awal-awal dan belum nampak eksistensinya secara nyata, namun desa sudah mulai menginiisasi untuk mengembangkan lurik itu”, ungkap perwakilan BPD Sambirejo Bapak Ngatno S. saat diskusi berlangsung.

IMG_9471Setelah melewati proses diskusi yang syarat dengan dialektika tersebut, disepakatilah 3 produk desa  yang akan dikembangkan secara bersama-sama antara Pemerintah Desa Sambirejo, warga masyarakat desa dan YSKK selama 1 tahun ke depan. ketiga produk tersebut adalah: pertama, Olahan Keripik Sayur dari bahan dasar kelor, Kenikir dan bonggol pisang. kedua, kerajinan anyaman plastik. ketiga pengembangan usaha lurik.

Selain tiga kesepakatan jenis produk tersebut, YSKK dan Pemerintah Desa kemudian berbagi peran untuk mengembangankan 3 produk tersebut hingga kemudian bisa menjadi produk unggulan desa. pembagian peran yang dimaksud adalah siapa dan akan bertanggungjawab di bagian mana.

Dalam pengembangan olahan keripik sayur, YSKK bertanggungjawab secara penuh. mulai dari pembiayaan dan segala kebutuhan-kebutuhan lainnya. Hal ini dikarenakan di tahun ini Desa tidak mempunyai rencana alokasi anggaran dalam pengembangan produk olahan makanan. “anggaran pengembangan olahan makanan, desa sudah mengalokasikan tahun kemaren. karena memang ibu-ibu dulu mintanya di situ. Di tahun ini dialokasikan pada bidang usaha yang lainnya” kata Kepala Desa Sambirejo Ibu Yuli saat menjelaskan alokasi-alokasi Dana Desa di Sambirejo.

Terkait pengembangan anyaman palstik dan produksi lurik, Desa sudah menganggarkan alokasi dana untuk kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan usaha anyaman plastik dan produksi lurik. masalahnya, menurut Bu Yuli, untuk anyaman plastik terkendala bahan baku. semua bahan baku mengambil ke desa tetangga. begitu pula dengan produksi lurik, Bu kades juga mengatakan bahwa semua bahan bahan baku diambil dari desa di kecamatan tetangga. “nanti akan ada pelatihan pewarnaan benang untuk pengusaha lurik, terutama untuk para pemuda supaya ada regenerasi pelaku usaha ini” ujar Bu Yuli.

2 Kesepakatan Bersama Desa Semin

Selesai diselenggarakannya FGD implementasi Desa MANTAP di Desa Sambirejo yang rampung pada jam 11:45 WIB, Agenda FGD kemudian dilanjut ke Desa Semin Kecamatan Semin Gunungkidul yang berjarak sekitar 7 Km dari Balai Desa Sambirejo Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul.

IMG_9489
FGD di Desa Semin

Acara  focus group discussion (FGD) dalam membangun sepakatan Implementasi Desa MANTAP di Semin dimulai jam 13:30 WIB. acara ini diikuti oleh perwakilan kelompok usaha ekonmi perempuan, Pemerintah Desa Semin, perwakilan Dukuh dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

“Beda ladang beda belalang” begitulah kira-kira ungkapan yang pantas untuk (jika boleh) membandingkan Desa Sambirejo dengan Desa Semin. Proses FGD di Desa Semin tidak ‘semulus’ dengan proses FGD di Desa Sambirejo. Di Semin diskusi berjalan dengan sedikit ada hambatan.

IMG_9512
Lusiningtyas saat Memandu Proses Diskusi

Pada saat proses diskusi berlangsung, perwakilan Pemerintahan Desa Semin memohon izin untuk keluar forum karena ingin menghadiri acara lain di luar. Padahal, keberadaan Pemerintahan Desa dalam proses diskusi tersebut cukup banyak menentukan keberlangsungan diskusi dan proses implementasi Desa MANTAP ke depan. “harusnya pemerintah desa ada di sini dan memaparkan anggaran alokasi dana desa” sesekali Lusi berucap demikian saat merasa kebingungan untuk mencoba membagi peran antara Desa dan YSKK dalam implementasi Desa MANTAP.

IMG_9504Selama proses diskusi, ada 2 produk yang menjadi kesepakatan YSKK dan Masyarakat untuk dikembangkan menjadi produksi unggulan Desa Semin ke depan. pertama, olahan makanan berbahan dasar pisang dan olahan tiwul. Asalan masyarakat memilih pisang sebagai bahan dasar yang akan dikembangkan lantaran hampir setiap pedukuhan di Semin ada sebagian warganya yang memproduksi olahan makanan pisang, terutama diolah menjadi keripik. harapannya, pisang tidak hanya diolah menjadi keripik semata. melainkan bisa diolah menjadi berbagai jenis produk olahan makanan sesuai dengan inovasi dan kreasi pelaku usaha olahan makanan.

Kedua, mengembangkan produksi anyaman bambu dan akar wangi. alasan jenis usaha ini dipilih adalah karena produksi kerjinan bambu dan akar wangi sudah tersentral di beberapa pedukuhan di desa Semin. sanyangnya, pada kesempatan FGD ini, para pelaku usaha kerjianan bambu dan akar wangi tidak ada dalam forum. sehingga mempersulit untuk menggali lebih dalam terkait jenis usaha ini.

Konsep Desa MANTAP

Diketahui bahwa akhir Bulan Maret yang lalu, Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) menyelenggarakan workshop Membangun Kesamaan Pemahaman Rencana Implementasi Konsep “Desa MANTAP Berbasis Kewirausahaan Perempuan” yang diikuti oleh perwakilan 4 calon desa model termasuk 2 desa yang dimaksud di atas: Semin, Kampung, Sambirejo dan Watusigar.

Istilah MANTAP berasal dari kata Mandiri, Terampil dan Produktif. Desa MANTAP berbasis kewirausahaan sendiri adalah sebuah gambaran desa dimana di desa tersebut terdapat berbagai macam kelompok ekonomi perempuan yang berkembang dengan baik, yang memiliki ragam produk dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Targetnya nanti, desa diupayakan untuk bisa mempunyai produk-produk unggulan, minimal satu produk  yang akan menjadi ikon desa sehingga membantu desa untuk bisa lebih dikenal oleh masyarakat luar” ungkap direktur YSKK Kangsure Suroto saat memberikan sambutan workshop yang diselenggarakan 2 hari di minggu terkahir Bulan Maret yang lalu di Ommaya Hotel & Resort Baki Sukoharjo tersebut. (yskk/han)

Iklan