Manfaatkan Limbah Plastik, Desa Sambirejo Menjadi Sentra Anyaman Plastik Terbesar di Gunungkidul

Mas Dwi, Pengrajin Anyaman Plastik Asal Dusun Sambeng 2

Gunungkidul: Desa Sambirejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul merupakan desa penghasil anyaman plastik terbesar di Gunungkidul. 3 Dusun dari 9 Dusun di Sambirejo, yaitu Dusun Sambeng 1, Sambeng 2 dan Tobong mayoritas warga masyarakatnya menekuni usaha ini. Jenis usaha ini merupakan salah satu bentuk usaha alternatif yang menjadi pilihan warga masyarakat Sambirejo. Berbagai jenis produk anyaman plastik yang dihasilkan bronjong, tas untuk belanja, tempat sampah, nampan, pot, sangkar ayam, wadah pakaian dan berbagai jenis barang lainnya.

Sebagian pengrajin menjadikan usaha produksi anyaman ini sebagai sumber pendapatan utama. biasanya mereka ini adalah orang-orang yang mempunyai cukup modal dan mampu menyetok bahan dalam jumlah yang cukup banyak. Dan sebagian pengrajin yang lain hanya menjadikan usaha anyaman plastik ini sebagai usaha sampingan yang dikerjakan di saat tidak sibuk atau pada malam hari saja. Pelaku jenis kedua ini biasanya hanya menjadi buruh atau pekerja dari mereka yang mempunyai modal dan bahan baku banyak. Buruh ini biasanya diupah mulai kisaran Rp 15.000 hingga Rp 30.000 perbarang tergantung jenis dan ukurannya barang yang dikerjakannya.

Baca juga : Dusun Sambeng 2, Salah Satu Sentra Anyaman Plastik di Gunungkidul

Bentuk usaha anyaman ini sudah berlangsung cukup lama di Desa Sambirejo, khususnya di Sambeng 2. awalnya, sebelum menggeluti anyaman plastik, pengrajin anyaman plastik merupakan pelaku kerajinan anyaman dari bambu. Selang beberapa lama, yakni sekitar tahun 2009 ketika bahan baku bambu harganya semakin mahal dan proses pengerjaannya dirasa cukup sulit serta butuh waktu yang cukup lama, kemudian masyarakat beralih menggunakkan bahan dari plastik. Plastik yang digunakan sebagai bahan dasar anyaman ini, masyarakat memanfaatkan plastik limbah dari pabrik tenun. dengan bahan dasar tersebut, disamping harga bahannya yang cukup terjangkau, proses pengerjaannya juga relatif mudah dan tidak membutuhkan waktu yang lama.

Limbah plastik tersebut, masyarakat biasa mendapatkannya dari Menden Klaten. Saat awal-awal penggunaan bahan dasar ini, yaitu sekitar tahun 2010-an, harga perkilonya Rp 2.700. semakin lama harga bahan semakin mahal, hingga saat ini harga berada dikisaran Rp 5.500 hingga Rp 6.500.

Bronjong Sebagai Primadona Pasar

Sri saat membuat anyaman bronjong

Pengerjaan anyaman plastik relatif mudah dan tidak butuh waktu lama. Anyaman berbentuk bronjong biasanya butuh waktu 3 hingga 4 jam, Anyaman berbentuk tempat sampah pengerjaannya butuh waktu 1 jam. Jika hanya fokus mengerjakan bronjong, pengrajin biasanya mampu mengerjakan 3 hingga 4 bronjong perharinya. Sementara untuk jenis dan bentuk produk yang lain bisa menghasilkan lebih banyak.

Anyaman bronjong menjadi jenis produksi terbesar di Sambirejo. Permintaan pasar akan kebutuhan barang jenis ini terbilang cukup tinggi. Dari saking tingginya permintaan pasar, satu pengrajin saja bisa mengirim barang ke satu pengepul saja sebanyak 8 hingga 10 bronjong dalam seminggunya. Sementara jenis produk anyaman yang lain, seperti tempat sampah dan lain-lain tidak terlalu banyak peminat, produksi dan penjualannya sekedarnya saja.

Jangkauan pasar selain di Gunungkidul sendiri, saat ini, para pengrajin sudah menjajaki wilayah-wilayah luar daerah Gunungkidul. Bahkan hingga ke luar provinsi seperti Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Pengerjaan tiap satu bronjong butuh bahan plastik sebanyak 3-5 Kg plastik, tergantung ukurannya. Ukuran besar kecilnya bronjong ditentukan sesuai jumlah pita plastik yang digukanan berdiri pada tiap sisinya. Perlu diketahui, bronjong ini berbentuk dua kubus terbuka yang sejajar. Jika tiap sisi menggunakan 9 pita plastik, maka dibutuhkan bahan sebanyak 3 kg, jika menggunakan 10 pita maka membutuhkan bahan sebanyak 4 kg, dan seterusnya.

Usaha kerajinan anyaman plastik di Sambeng ini berjalan sendiri-sendiri, mulai dari proses produksi hingga pemasaran. Hampir setiap pelaku usaha sudah mempunyai pasar masing-masing untuk penjualan barang hasil produksinya. terutama barang jenis bronjong, biasanya langsung ke pemesan atau ke tengkulak langganannya.

Harga satuan barang jenis bronjong Rp 60.000, tempat sampah seharga Rp 20.000 – Rp 30.000, pot bunga ukuran kecil seharga Rp 15.000, wadah pakaian dibandrol Rp 20.000 – Rp 60.000, wadah pakaian yang memakai engsel bisa dibandrol Rp 90.000.

Iklan

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s