GUNUNGKIDUL – Wilayah Kabupaten Gunungkidul – Daerah Istimewa Yogyakarta terkenal dengan daerah yang tandus dan kering. Sejak dulu, daerah ini dikenal sebagai daerah yang sering mengalami kekeringan. Lebih-lebih saat musim kemarau tiba, hampir seluruh wilayah Gunungkidul dilanda kekurangan air bersih sehingga harus mendatangkan air bersih dari luar  wilayah Gunungkidul. Termasuk Desa Sambirejo, Kecamatan Ngawen – Gunungkidul.

Desa Sambirejo yang terletak di sisi utara kabupaten Gunungkidul, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Klaten dan Sukoharjo ini termasuk wilayah yang dulunya sering mengalami kelangkaan air bersih saat musim kermarau tiba. Mengatasi persoalan tersebut, masyarakat setempat berinisiasi membuat sumur bor untuk medapatkan sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurut Kepala Dusun Sambeng III, Suwardi mengungkapakn bahwa pengeboran sumur di Desa Sambirejo mayoritas berawal dari inisiatif masyarakat sendiri. Di Dusun Sambeng III sendiri yang terdapat 2 sumur bor berawal dari inisiatif masyarakat sendiri. Masyarakar berswadaya mengumpulkan uang untuk membiayai kebutuhan pengeboran.

Setelah pengeboran selesai, beliau bersama masyarakat mencari donatur yang mau memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya, seperti pengadaan mesin pompa, listrik, tempat penampungan air dan selang untuk penyaluran air ke rumah-rumah warga. “pengeborannya itu masyarakat sendiri yang membiayai. Kelau pengadaan alat dibiayai kenalan saya dari Solo. Beliau mau membelikan mesin pompa, selang dan kebutuhan lainnya yang kalau ditotal sekitar 60 juta. Itu yang sumur kedua yang dikelola saya itu.” Ungkap Pak Suwardi.

Di Dusun Sambeng III, Pak Suwardi Menambahkan, sekitar 90% warganya memanfaatkan keberadaan PAMDus, selebihnya menggunakan sumur pribadi. Masyarakat yang mengambil air dari PAMDus, di awal ditarik biaya 500ribu untuk keperluan beli meteran air dan selang. Kemudian tiap bulannya dibebani iuran sebesar Rp 2.000 /M³. “tiap bulannya Cuma 2.000 per M³. Ya lebih murah ketimbang PDAM” ujarnya. Dari hasil penarikan tarip Rp 2.000/M³ digunakan untuk pembayaran listrik dan pemeliharaan PAMDus. Sementara ini, pengelola PAMDus di Sambeng III belum mendapat insentif. Hanya ada alokasi Rp 50.000 yang bertugas mencatat meteran pelanggan tiap bulannya. “lima puluh ribu itu untuk yang keliling mencatat meteran air warga, Cuma mengganti bensin aja” pungkasnya.

Iklan